
Maros – Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros Dalam rangka mempererat sinergi, BBVet Maros mengadakan silaturahmi bersama awak media yang membahas capaian kinerja tahun 2025 serta arah dan prioritas program tahun 2026. Rabu 28/1/2026.
BBVet Maros terus menegaskan perannya sebagai ujung tombak pengawasan kesehatan hewan di kawasan Indonesia Timur. Sepanjang tahun 2025, unit teknis di bawah Kementerian Pertanian ini mencatat capaian signifikan dengan melakukan pengujian terhadap 101.834 sampel hewan dari berbagai daerah.
Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah pencegahan terhadap peredaran penyakit hewan menular sekaligus menjamin keamanan pangan asal hewan yang dikonsumsi masyarakat.
Kepala BBVet Maros, drh. Agustia, menjelaskan bahwa capaian ini tidak lepas dari kerja kolektif 107 personel, termasuk 26 dokter hewan, yang terlibat langsung dalam kegiatan surveilans, investigasi lapangan, hingga pengujian laboratorium.

“Sepanjang 2025, kami melakukan pengujian sekitar 101 ribu sampel yang berasal dari delapan provinsi dan 102 kabupaten/kota dalam wilayah kerja BBVet Maros,” ujar Agustia.
Bone Dinilai Paling Strategis
Dari seluruh daerah yang terpantau,
Kabupaten Bone tercatat sebagai daerah dengan jumlah sampel terbanyak. Bahkan, hampir sepertiga dari total sampel yang diuji BBVet Maros berasal dari wilayah tersebut.
Menurut Agustia, Bone memiliki posisi strategis dalam sistem ketahanan kesehatan hewan di Sulawesi Selatan.
“Jika pengendalian penyakit di Bone berjalan optimal, maka efek perlindungannya akan terasa ke wilayah lain di Sulsel,” tegasnya.
Berdasarkan data pengujian, sampel didominasi oleh sapi sebanyak 60.050, disusul ayam 21.718, babi 2.174, kerbau 464, dan kuda 193 sampel.
Penyakit Strategis Terkendali
Kabar menggembirakan datang dari tren penurunan penyakit hewan strategis. Dibandingkan tahun sebelumnya, sejumlah penyakit menunjukkan penurunan kasus yang cukup tajam.
Kasus Rabies tercatat menurun dari 121 kasus pada 2024 menjadi 69 kasus di 2025. Sementara penyakit Jembrana dan Brucellosis juga dilaporkan semakin terkendali.
Adapun Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih ditemukan sebanyak 2.000 kasus di 120 titik sepanjang 2025. Namun, Agustia menegaskan bahwa kemunculan kasus tersebut bersifat sporadis dan tidak terjadi secara bersamaan, dengan wilayah Toraja Utara dan Tana Toraja sebagai daerah dengan kasus terbanyak.
“Penurunan kasus ini merupakan hasil tindak lanjut cepat dari pemerintah daerah terhadap rekomendasi teknis yang kami berikan, baik berupa vaksinasi maupun pengobatan,” jelasnya.
Arah Program 2026
Memasuki tahun 2026, BBVet Maros akan memfokuskan perannya dalam mendukung program hilirisasi peternakan, khususnya pada penguatan sistem perunggasan terintegrasi.
Prioritas utama diarahkan pada pengawasan mutu produk, mulai dari hulu hingga hilir, agar telur dan daging yang beredar di masyarakat memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan.
“Komitmen kami adalah memastikan kualitas ternak tetap terjaga demi mendukung ketahanan pangan dan melindungi konsumen,” tutup Agustia. (*)


