Makassar, 8 Desember 2025 — Pelaksanaan pemilihan Ketua RT dan RW yang berlangsung serentak di Kota Makassar pada 3 Desember 2025 kembali menuai kritik. Di Kelurahan Buakana, Kecamatan Rappocini, sejumlah peserta dan warga mengungkap dugaan rekayasa dalam proses pemilihan yang dinilai tidak transparan dan berpotensi menguntungkan pihak tertentu.
Salah satu peserta yang menjadi sumber media mengaku menemukan sejumlah kejanggalan baik pada tahap pendaftaran maupun pelaksanaan pemungutan suara. Ia menilai ada calon yang ikut bertarung meski disebut tidak berdomisili di wilayah
Pendaftaran DPT Diduga Tidak Transparan
Menurut sumber tersebut, tahapan pendaftaran Daftar Pemilih Tetap (DPT) berlangsung tanpa transparansi. Sejumlah warga yang hendak mendaftar disebut ditolak oleh panitia dengan alasan pendaftaran telah ditutup, sementara di saat bersamaan warga lain yang diduga berasal dari pihak tertentu justru tetap diterima.
> “Ketika warga datang membawa berkas untuk mendaftar, panitia mengatakan pendaftaran sudah ditutup. Namun anehnya, warga yang diduga berasal dari pihak peserta lain justru masih diterima,” ungkap sumber.
Ia menjelaskan bahwa undangan pemilihan yang beredar menunjukkan daftar pemilih seharusnya berjumlah 41 orang. Namun dalam DPT hanya tercatat sekitar 28 pemilih.
Pembukaan Pendaftaran Mendadak Picu Kecurigaan
Kejanggalan lain muncul ketika pihak kelurahan sempat menyampaikan bahwa pendaftaran sudah ditutup oleh kecamatan. Namun, pada sore hari di hari yang sama pendaftaran kembali dibuka dengan alasan terdapat “daftar tambahan”.
> “Kami menerima informasi dari Ibu Lurah bahwa pendaftaran ditutup. Tetapi sore hari tiba-tiba dibuka lagi karena ada daftar tambahan. Ini membuat kami semakin curiga,” lanjutnya.
Warga Terbelah, Dugaan Intervensi Menguat
Dari penelusuran tim media, situasi tersebut berdampak pada perpecahan opini di tengah warga Buakana. Sejumlah peserta mengklaim telah dirugikan, terutama setelah hasil yang sebelumnya diklaim kemenangan berubah saat rekapitulasi dilakukan di kantor kelurahan.
> “Awalnya kami sudah menang pada pemilihan awal. Tetapi setelah sampai di kelurahan, hasil justru berubah. Diduga ada intervensi kepada pemilik suara agar mengalihkan pilihan, bahkan mempengaruhi calon RT untuk mencoblos RW tertentu,” ujarnya.
Ia juga menyebut adanya peserta terpilih yang mengaku mendapat tekanan atau intimidasi dari pihak tertentu.
Desakan Pemilihan Diulang
Dengan melihat rangkaian dugaan pelanggaran tersebut, peserta meminta agar pemilihan RT/RW di Kelurahan Buakana diulang dengan proses yang lebih transparan dan akuntabel.
> “Dalam sebuah kompetisi pasti ada menang dan kalah. Namun prosesnya harus jujur dan adil. Kami berharap Wali Kota Makassar memberi perhatian serius agar kejadian seperti ini tidak terulang,” tegasnya.
Hingga berita ini dipublikasikan, pihak kecamatan maupun kelurahan belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan rekayasa pemilihan tersebut.


