
Maros – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Maros menggelar Focus Group Discussion (FGD) Program Strategi Pelayanan Holistik Terintegrasi Bagi Warga Binaan Lansia Pemasyarakatan (SAPA LANSIA PAS), Kamis (8/10). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Proyek Perubahan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Tahun 2026.
FGD SAPA LANSIA PAS menjadi wadah untuk membahas strategi pelayanan yang lebih holistik dan terintegrasi bagi warga binaan lanjut usia di Lapas Maros. Forum ini mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan lintas sektor guna menghimpun masukan, gagasan, serta dukungan dalam pengembangan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan warga binaan lansia.
Kegiatan tersebut diikuti perwakilan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag), Dinas Sosial (Dinsos), Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-Dalduk KB), Kementerian Agama (Kemenag), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), serta Psikologi Universitas Hasanuddin (Unhas).
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Selatan (Kanwil Ditjenpas Sulsel), Hernowo Sugiastanto, turut hadir sekaligus membuka kegiatan. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bagian penting dalam membangun perspektif bersama mengenai pelayanan warga binaan lansia, khususnya melalui pendekatan yang melibatkan aspek kesehatan, sosial, administrasi kependudukan, keagamaan, psikologis, hingga pemberdayaan.
Dalam sesi FGD, Psikologi Unhas bertindak sebagai moderator yang memandu jalannya diskusi dan pertukaran gagasan antarpeserta. Pembahasan diarahkan pada identifikasi kebutuhan warga binaan lansia serta peluang penguatan kolaborasi lintas sektor agar pelayanan yang diberikan dapat berjalan secara terpadu dan berkesinambungan.
Kepala Lapas Kelas IIB Maros, Ali Imran, mengatakan, penguatan pelayanan bagi warga binaan lansia membutuhkan sinergi dari berbagai pihak karena kebutuhan mereka tidak hanya berkaitan dengan pembinaan di dalam Lapas.
“Melalui SAPA LANSIA PAS, kami ingin membangun pelayanan yang lebih terpadu dengan melibatkan berbagai pihak yang memiliki kompetensi dan kewenangan sesuai bidangnya. Masukan dari seluruh peserta FGD menjadi bagian penting dalam menyusun langkah pelayanan yang lebih tepat bagi warga binaan lansia,” ujar Imran.
Melalui FGD SAPA LANSIA PAS, Lapas Maros mendorong terbentuknya model pelayanan yang mampu menjawab kebutuhan warga binaan lansia secara lebih menyeluruh. Hasil diskusi diharapkan dapat menjadi bahan penguatan Proyek Perubahan Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Tahun 2026 sekaligus mendukung peningkatan kualitas pelayanan pemasyarakatan yang inklusif, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan warga binaan lansia.(humas)


