
KilasNews/MAKASSAR — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar terus memperkuat upaya pengurangan sampah dari sumber melalui Program Jelajah Sampah yang kini memasuki titik ke-10. Kegiatan yang berlangsung di Kecamatan Ujung Pandang, Minggu (2/8/2026), berhasil mengumpulkan 49 kilogram sampah sekaligus disertai penyerahan satu unit motor Viar untuk mendukung operasional kebersihan di kawasan Pantai Losari.
Kegiatan diawali dengan aksi plogging di kawasan Pelabuhan Kayu Bangkoa dan dilanjutkan di Anjungan Pantai Losari. Puluhan peserta memungut sekaligus memilah sampah sebagai bentuk edukasi dan aksi nyata menjaga kebersihan lingkungan.
Dari hasil kegiatan tersebut terkumpul 10 kilogram sampah organik, 25 kilogram sampah anorganik, dan 14 kilogram sampah residu. Hasil ini menunjukkan sebagian besar sampah masih memiliki potensi untuk diolah maupun didaur ulang sehingga tidak seluruhnya harus berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman, menegaskan bahwa pemilahan sampah merupakan fondasi utama dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Yang ingin kami bangun bukan hanya pemahaman mengenai jenis sampah, tetapi juga kedisiplinan dalam mengelolanya. Sampah organik, anorganik, dan residu memiliki jalur penanganan yang berbeda. Karena itu, pemilahan harus dilakukan sejak dari rumah maupun tempat usaha,” ujarnya.
Menurut Helmy, Kecamatan Ujung Pandang memiliki karakteristik tersendiri karena menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, pariwisata, serta kawasan hotel, restoran, dan kafe dengan aktivitas yang berlangsung hampir sepanjang hari. Kondisi tersebut menyebabkan volume sampah terus meningkat, sehingga diperlukan pola pengelolaan yang lebih adaptif melalui pengurangan sampah dari sumber dan pengangkutan berdasarkan jenis sampah yang telah dipilah.
“Setiap kecamatan memiliki tantangan yang berbeda. Di Ujung Pandang, kolaborasi dengan pelaku usaha dan pengelola kawasan menjadi sangat penting. Namun prinsipnya tetap sama, yakni mengurangi sampah dari sumber dan memastikan hanya sampah residu yang dibawa ke TPA,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada penyediaan tempat sampah terpilah, tetapi juga harus didukung sistem pengolahan yang jelas. Sampah organik diarahkan menjadi kompos atau produk bermanfaat lainnya, sampah anorganik masuk ke rantai daur ulang maupun bank sampah, sedangkan sampah residu diproses di TPA.
Sementara itu, Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, mengajak seluruh perangkat wilayah, khususnya RT dan RW, untuk terus mengedukasi masyarakat agar membiasakan pengelolaan sampah dari rumah.
“Jangan pernah lelah mengingatkan warga. Edukasi memang membutuhkan proses, tetapi perubahan selalu dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten,” katanya.
Melinda juga mendorong masyarakat memanfaatkan metode sederhana dalam mengolah sampah organik, seperti komposter, biopori, eco-enzyme, hingga budidaya maggot sebagai solusi pengurangan sampah.
Rangkaian kegiatan turut diisi dengan talkshow yang menghadirkan Najha Aris dari Pusdal LH Suma dan Mashud Azikin dari Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar. Diskusi tersebut menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah.
Pada kesempatan yang sama, DLH Kota Makassar menyerahkan satu unit motor Viar kepada UPT Pantai Losari Kecamatan Ujung Pandang sebagai tambahan armada operasional pengumpulan dan pengangkutan sampah.
Menurut Helmy, kendaraan tersebut diharapkan mampu menjangkau titik-titik pengumpulan sampah yang sulit diakses kendaraan besar sehingga proses pengangkutan menjadi lebih cepat dan kawasan Pantai Losari tetap terjaga kebersihannya.
Program Jelajah Sampah merupakan bagian dari rangkaian edukasi DLH Kota Makassar yang dilaksanakan di 15 kecamatan, termasuk wilayah kepulauan. Setiap pelaksanaan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah sebagai upaya memperkuat sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Melalui program ini, DLH Kota Makassar berharap kesadaran masyarakat untuk memilah, mengurangi, dan mengelola sampah dari sumber terus meningkat, sehingga hanya sampah residu yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir.(*)


