MAROS – Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Jeneberang Saddang menggelar Festival Kopi Forest Programme IV Tahun 2026 pada 19–20 Oktober 2026 di Grand Town Hotel Maros. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB hingga selesai ini mengangkat potensi kopi lokal Mamasa dan Pinrang sebagai komoditas unggulan yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Kepala BPDAS Jeneberang Saddang, Abdul Aziz, S.Hut., M.Sc., menyampaikan sambutan dalam pembukaan festival tersebut. Kegiatan ini melibatkan dukungan sektor kehutanan dan mitra pembangunan, termasuk Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dan KfW (Bank Pembangunan Jerman).

Festival Kopi Forest Programme IV dirancang sebagai wadah untuk memperkuat pengetahuan, kapasitas, jejaring, dan peluang usaha Kelompok Tani Hutan (KTH) melalui pengembangan kopi yang terintegrasi dengan agroforestri ramah lingkungan.
Tidak hanya menjadi ajang promosi produk, festival ini juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas kopi, memperkuat kelembagaan petani, memperluas akses pasar, memfasilitasi akses pembiayaan, serta membangun kemitraan yang saling mendukung.
Kopi Lokal Mamasa dan Pinrang Jadi Sorotan
Mengusung tema “Kopi Lokal Mamasa & Pinrang: Kualitas Rasa, Warisan Alam, Peluang untuk Masa Depan”, festival ini menekankan pentingnya pengembangan kopi lokal sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat sekaligus upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Pendekatan agroforestri menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan tersebut. Integrasi tanaman kopi dengan sistem pengelolaan lahan yang ramah lingkungan diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi petani sekaligus mendukung fungsi ekologis kawasan hutan.
Melalui festival ini, para pelaku usaha dan Kelompok Tani Hutan diharapkan memperoleh kesempatan untuk memperluas jejaring, memperkenalkan produk, serta membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak.

Perkuat Kapasitas dan Daya Saing Petani
Delapan fokus utama yang diangkat dalam Festival Kopi Forest Programme IV Tahun 2026 meliputi penguatan pengetahuan dan kapasitas, pengembangan jejaring, peluang usaha, pengembangan kopi terintegrasi dengan agroforestri ramah lingkungan, penguatan kelembagaan, perluasan akses pasar, fasilitasi akses pembiayaan, serta kemitraan yang sinergis.
Dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan, pengembangan kopi lokal Mamasa dan Pinrang diharapkan semakin kompetitif dan mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Festival ini menjadi momentum untuk mendorong pengelolaan kopi berbasis kehutanan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kualitas, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan petani.
Melalui penguatan kapasitas dan kemitraan, BPDAS Jeneberang Saddang diharapkan dapat terus mendorong pengembangan usaha Kelompok Tani Hutan serta memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.


